Upacara Nyegara Gunung, raris kelanturang antuk ngelinggihang Dewa Hyang (Sulangai)
.............. Lanjutan

Dharmawacana 
"Ngaben Pinaka Upacara Mamarisudha Sawa, Ngewaliang Sang Panca Maha Bhuta 
ke Witnyane"

Sane ketah mamargi, kalih soroh makadi; ngaben sarat, sekadi sawa preteka, sawa wedhana, miwah asthi wedhana. Ngaben nista boya kaon, wantah upakaranyane kidikan saihang ring ngaben sarat, sami suksemanyane mautama, manut sradha kecap sastra Manusmrti caturtah sargah, sloka 228, maosang sapuniki : “yadiastun akidik maturan, dulurin tapa, brata, yoga, semadi, mapakayun, mababaos, maparilaksana sarwa suci, sami kabaos panca maha yajna, janten pitaranyane magegas nebus dosan sentananyane”. 

Naskah Dharma Wacana : TRI PARARTHA, SEBAGAI DASAR DALAM KEHIDUPAN BERBHINNEKA


Dibawakan pada Parade Dharma Wacana yang diselenggarakan oleh
BALI  TV, MATAHARI DARI BALI




Om Swastyastu,
Om  Annobadrahkrtavoyantu Visvatah

( Ya Tuhan, semoga pikiran yang baik datang dari segala penjuru )
Pemirsa BALI TV yang saya hormati,
Serta rekan-rekan Peserta Parade Dharma Wacana yang saya kasihi,

Rasa angayu bagya serta puji syukur saya panjatkan kehadirat Ida Sang Hyang Widhi Wasa / Tuhan Yang Maha Esa, karena atas asung kertha wara nugraha Beliau, saya, Ni Luh Sundra Kristyani, Mahasiswi Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar pada kesempatan ini dapat menyampaikan sebuah wacana dharma dalam parade dharma wacana BALI TV 2011. Begitu pula pemirsa setia BALI TV di seluruh Nusantara semoga selalu dalam keadaan sehat dan tanpa kekurangan suatu apapun. Pada kesempatan yang maha mulia ini saya akan menyampaikan sebuah dharma wacana yang berjudul “Tri Parartha, Sebagai Dasar Dalam Kehidupan Berbhinneka”.

Bahkan Kita Lupa Membuang Sampah Sisa Sembahyang Di Pura


Pemangku bersama pemedek seusai sembahyang, membersihkan sampah yang berserakan di natar pura Candi Narmada

Setiap pagi saat sekolah, kita pasti pernah merasakan membersihkan ruang kelas dan halaman sekolah, minimal seminggu sekali. Itu pasti. 

Tahu kan, bagaimana susahnya membersihkan Sampah disela-sela bangku. Bahkan bangku yang beratnya (mungkin lebih berat dari badan saya) harus diangkat dan dirapikan kembali. ‎Cukup berat. Apalagi usai perayaan hari Raya Saraswati di sekolah, pasti melelahkan membersihkan Sisa sembahyang yang menggunung. 

Purnama-Tilem Realisasi Konsep Rwa Bhineda?



Rerahinan Purnama dan Tilem yang dirayakan oleh umat Hindu merupakan simbolis penerimaan Rwa Bhineda (dua sisi berbeda: baik dan buruk, gelap dan terang,suka dan duka). Purnama Tilem mengingatkan manusia akan adanya dua sisi yang saling bertentangan dalam kehidupan ini. Yaitu adanya gelap dan terang, kehidupan dan kematian, baik dan buruk, cinta dan benci, bersih dan kotor dan sebagainya.

Sedikit menyoroti Gender, Kasta dan Warna

Foto bersama anak-anak komunitas Kampoeng Ilmu Amritha Giri, Sulangai

Saat yang lain sudah melangkah maju, kita masih saja disibukkan dengan urusan diskriminasi sosial, padahal ajaran-ajaran yang terkandung dalam Veda sungguh luar biasa untuk semesta dan kehidupan manusia. Amerika sudah ke bulan, masihkah kita tetap bergelut dengan hal semacam ini?

Apasih Makna Hari Suci Purnama Tilem?

Pura Rambut Siwi
Setiap hari purnama dan tilem, kita sebagai umat hindu biasanya melakukan persembahyangan ke pura atau merajan di rumah masing-masing. Namun, apa sih sebernarnya makna dari hari suci tersbut? Dalam Lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut :